WhatsApp-Image-2026-03-26-at-18.38.15
PERGI DALAM PERBEDAAN

PERGI DALAM PERBEDAAN

Karya: Nur Aisyah

Aku menatap langit sore dari jendela kelas. Di sisi kanan bangku duduk Tanaya, gadis dengan kulit cokelat sawo matang, rambut hitam pekat, dan senyum yang selalu terasa hangat. Tidak seperti teman-teman lain yang suka menjauh darinya, aku justru tertarik padanya sejak pertama kali dia pindah dari Bali ke Jawa.

Tanaya berbeda. Keyakinannya berbeda, bahasa ibunya berbeda, bahkan cara dia berdoa pun berbeda. Tapi justru di situlah letak pesonanya bagiku.

“Orang-orang mungkin akan membencimu karena kamu berteman denganku,” ucapnya suatu hari padaku sambil tertawa kecil terasa pilu.

“Kalau mereka benci karena aku memilihmu sebagai temanku, mungkin merekalah yang belum mengerti arti kata manusia,” balasku.

Udara pagi menembus pelan lewat jendela kelas yang terbuka. Tanaya sedang sibuk mencoret-coret halaman belakang bukunya. Aku duduk di sebelahnya, memandangi bayangan matahari yang menari-nari di ujung mejanya.

“Aku boleh bertanya Naya?” Tanyaku pelan.

Tanaya menoleh, alisnya terangkat sedikit. “Tanya apa, Raib? Asal jangan soal matematika je, otakku sudah angkat tangan duluan sebelum kamu tanya toh.”

 “Bukan soal itu, kok.” Aku terkekeh kecil.

Aku menatap tangannya yang terus menggambar, lalu memberanikan diri bertanya, “Apa bahasa Balinya ‘indah’?”

Dia terdiam sebentar, lalu menjawab dengan suara pelan, seperti sedang memilih kata yang paling pas.

“‘Jegeg’, bisa juga ‘ayu’ kalau yang kamu maksud itu rasa dari hati, je. Tapi tergantung juga, Raib… kadang-kadang, perasaan itu susah dijelasin pakai satu kata aja, nah.”

Aku mengangguk-ngangguk, lalu menatap lurus kembali ke depan arah jendela.

“Kalau begitu… iya, itu kamu,” ucapku pelan, nyaris seperti bisikan.

Dia terdiam dan sedetik kemudian lalu tertawa, pelan dan hangat, seperti biasa.

“Eh, kamu ini mulai lagi, je,” ucapnya, nada suaranya menggoda.

“Baru nanya dikit ujung-ujungnya gombal juga, nah.”

 

Aku tersenyum. “Aku tidak bercanda, Naya. Kamu itu… indah. Bukan hanya karena cara kamu tersenyum atau wajahmu. Tapi karena kamu… beda, dan kamu enggak pernah takut buat jadi diri kamu sendiri.”

Tanaya menatapku lama, lalu berkata lirih, “Makasih, Raib… aneh rasanya, tapi hangat, je. Kadang capek jadi diri sendiri, apalagi kalau kita selalu beda. Tapi kalau ada satu aja yang ngerti, dunia enggak terasa segelap itu, nah.”

Dimulai hari kedatangannya, kami semakin dekat hingga tak terpisahkan. Belajar bersama, pulang bersama, dan rasa nyaman itu muncul, sebagai sahabat dekat. Aku jatuh pada cara dia memandang dunia, walau dunia tak selalu memandangnya sama.

Sore sepulang sekolah langit sedikit mendung, tapi kami nekat untuk duduk di tribun lapangan sembari menunggu siswa-siswi yang lain pulang terlebih dahulu, membiarkan angin menyapu rambut dan halaman buku yang sedang dicorat-coret.

Tanaya menggambar lagi, kebiasaannya saat bosan atau gelisah. Kali ini dia menggambar wajah seekor kucing yang matanya melotot ke arah seekor burung. Anehnya, burungnya tersenyum.

“Simbol apa lagi tuh?” Tanyaku, sambil menyeruput es teh yang mulai cair.

“Bukan simbol, Raib. Cuma mewak isiang ati baang… iseng aja,” jawabnya sambil terus menggurat pensil.

“Tanaya….,” ujarku lirih karena tidak mengerti.

“Aishh aku lupa Raib, ini cuman iseng-iseng aja kok, bukannya gambar simbol-simbol apa, gitu je,” ujarnya dengan senyum menampilkan gigi kelincinya.

Aku diam sejenak, lalu nyeletuk, “Kamu tahu enggak, kamu tuh seperti burung di gambar itu. Keliatan tenang, tapi sebenarnya lagi ngadepin mata-mata tajam yang siap mencakar kapan aja.”

Tanaya menoleh, lalu tersenyum samar. “Iya… burungnya senyum aja, walau lagi diliatin tapi senyum itu bukan berarti dia lemah, dia cuma… kuat diem-diem je.”

Kami berdua tertawa kecil.

Tapi tak lama, dua orang teman sekelas lewat di bawah tribun. Salah satunya sempat melirik ke arah kami, lalu berbisik cukup keras untuk kudengar.

“Udah beda agama, duduknya dempet-dempet terus,  pantesan….”

Aku membeku. Tanaya pura-pura tidak dengar, tapi tangannya berhenti menggambar.

“Aku… cuma pengin duduk sama sahabatku, salah ya?” Gumamnya pelan.

“Aku sing salah, Raib? Duduk ten sisi kancamu, mekelo, ngalantur pelajaran bareng… kenapa dadi masalah?” Katanya, lirih.

“Enggak, kamu enggak salah, dunia aja yang terlalu sempit,” ucapku menatapnya.

Tanaya menarik napas dalam, lalu menatap langit.

“Raib… rasanya capek… jadi perbedaan terus, di mana-mana aku enggak dianggap dan terus mengalah.”

“Kamu enggak sendiri Naya, kan ada aku, aku lebih milih denganmu, daripada ikut mereka yang pikirannya sama semua tapi hatinya kosong.”

Dia menatapku lama, mata itu untuk beberapa detik bergetar seperti hendak pecah. Tapi akhirnya dia tersenyum lagi.

“Kalau nanti tiang harus pergi duluan, jangan berubah ya, Raib…. tetap dadi awakmu yang sekarang, sing takut duduk di sebelah beda.”

Aku tidak mengerti kenapa dia kembali berbicara bahasa bali lagi, tapi aku hanya membalasnya dengan tertawa kecil.

Tiga hari sebelum aku pergi berangkat lomba, aku sudah memberi tahu Tanaya. Siang itu, kami duduk di kelas dengan memakan bekal masing-masing.

“Aku bakal tidak masuk sekolah beberapa hari Naya,” kataku. “Ada lomba debat tingkat Provinsi, hari H-nya pas Kamis, tapi aku berangkatnya dari Selasa.”

Tanaya menatapku sambil mengangguk. “Wah, bagus itu, Raib tapi jangan lupa satu hal ya.”

“Apa?”

“Titip oleh-oleh…, oleh-oleh piala hehe,” ujarnya dengan senyum khas menampilkan gigi kelinci menambah kesan manis.

“Aku akan bawakan piala itu nanti, tapi dengar ya, selama aku tidak ada di sekolah, kamu harus jaga diri, jangan dengerin omongan siapa pun tentang kamu, kalau mereka bilang yang aneh-aneh cukup diabaikan saja, kamu bukan mereka, kamu lebih dari yang mereka pahami.”

Dia tersenyum hingga matanya menyipit karena cahaya menembus dari luar jendela.

“Tiang jaga diri, tapi kamu juga jaga diri di sana ya dan… pulang bawa pialanya.”

Tiga hari tanpa melihat Tanaya dan tiga hari ikut lomba yang katanya bergengsi, dengan ruangan ber-AC, dan pembicaraan berat soal politik dan etika sosial. Tapi pikiranku terus berada di sekolah. Di bangku kelas coklat dan di mata coklat hangat yang selalu membuat aku ingin pulang cepat untuk sekolah dan bertemunya.

 

Lalu hari itu datang.

Aku baru sampai di rumah, piala memang ada di tangan, tapi berita yang kuterima lebih berat dari segalanya.

“Tanaya dibuli,” kata Diah, teman sekelasku lewat pesan singkat.

Aku datang ke sekolah dengan wajah tergesa-gesa, mencari sahabat yang sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Hari ini terlalu ramai, ratusan siswa sangat menghalangi langkahku.

“Tanaya…” bisikku lirih nyaris tak terdengar, saat mataku terpaku pada mading sekolah.

Sebuah foto Tanaya terpajang di sana—tersenyum seperti biasa, namun kali ini dibingkai hitam dan di bawahnya tertulis, Turut berduka cita atas kepergian Tanaya.

Dunia seakan melambat, hatiku menolak untuk percaya. Masih terasa kemarin dia duduk di bangku itu, tertawa kecil sambil bergurau denganku. Masih terasa jelas suaranya, candanya, bahkan caranya memanggil namaku.

Tanaya sudah tiada, dia ditemukan tak bernyawa di bawah pohon flamboyan dekat pura kecil milik keluarganya. Di tangannya ada kain persembahyangan yang dibakar sebagian.

“Dia… dibenci,” ujar salah satu temanku. “Katanya dia dituduh menyebarkan agama, padahal cuma sedang sembahyang diam-diam di waktu istirahat.”

Aku berdiri di depan rumahnya yang ramai tapi terasa sepi. Tak ada suara tawa dari dalam maupun dari luar, tak ada lagi langkah kaki kecil Tanaya yang biasa mengejarku di pagi hari sambil mengomel karena aku telat. Di teras rumah, keluarga dan kerabatnya mengenakan pakaian adat serba putih, duduk diam dengan mata sembab.

Di depan rumah, jenazah Tanaya telah disemayamkan dalam peti kayu yang diukir halus dengan indah. Di samping petinya dupa mengepul perlahan, seolah mengantar jiwanya pulang lebih dulu ke langit.

Mereka bilang jenazahnya akan dibawa pulang ke Bali esok pagi, untuk menjalankan prosesi ngaben. Untuk menjadi abu dan bercampur dengan udara, agar arwahnya bisa bebas menuju alam yang lebih damai. Tapi entah kenapa, saat kulihat wajahnya yang tenang dalam balutan kain putih, rasanya aku ingin berteriak—memintanya untuk bangun, tertawa lagi, mengejekku dengan logat Balinya, atau sekadar bilang, “Tenang Raib, tiang masih di sini.”

 

Tapi Tanaya sudah tak bisa berkata apa-apa. Aku hanya bisa berdiri, diam membisu.  Tanganku mengepal penuh peluh, menggenggam surat dan piala yang tak pernah sempat kuberikan padanya.

Seorang perempuan dengan anggun namun wajahnya memancarkan raut kesedihan bergerak menghampiriku. Tubuhnya mungil, rambutnya disanggul rapi, wajahnya lelah tapi teduh. Ia mengenakan kebaya putih dan kain batik berwarna lembut. Aku mengenal wajah itu—ibunda Tanaya.

“Raib, ya?” suaranya lembut persis seperti Tanaya.

Aku mengangguk pelan, tenggorokanku terasa kaku.

“Tiang tahu… kamu teman yang baik untuk anak tiang. Terima kasih ya, sudah temanin Tanaya… sudah buat dia merasa tidak sendiri.”

Aku hanya menunduk, rasa ingin menjawab tapi dada ini sesak.

Beliau mengeluarkan sesuatu dari tas kecil yang disampirkan di pinggangnya. Sebuah buku bersampul cokelat tua yang amat aku kenali, itu buku harian Tanaya.

“Ini… Tanaya titipin di kamarnya. Sebelum dia berangkat sekolah terakhir kali, dia taruh ini di atas bantalnya,” ucapnya pelan. “Tiang rasa… dia ingin kamu yang baca.”

Tanganku amat gemetar saat menerimanya, beliau menepuk bahuku dengan pelan, hangat, seperti seorang ibu yang menenangkan.

“Baca baik-baik ya… Di dalam itu, banyak sekali rasa yang dia pendam. Kalau kamu baca… kamu bakal ngerti kenapa Tanaya begitu kuat dan begitu sayang sama kamu.”

Aku mengangguk pelan, memeluk buku itu sangat erat-erat.

“Ada yang ingin kamu titipkan, Nak?” Suara lirih yang nyaris lenyap di antara isak tangis dan gumam doa-doa suci.

“Bolehkah… surat dan piala ini ikut bersamanya untuk perjalanannya yang terakhir?”

“Nggih Sampun,” ia menjawab dengan anggukan pelan.

Surat itu kutaruh di atas peti tepat di dekat kepalanya. Kulihat wajahnya untuk terakhir kali, terlihat damai, seperti tidur panjang setelah hari yang melelahkan.

Aku kembali datang esoknya, terlihat orang-orang hilir mudik di dalam membawa bunga, dupa, dan kain putih yang melambai-lambai seperti tangan terakhir yang melambaikan selamat tinggal.

 

 

Dan di sana—di ruang tengah rumah itu, terbujur sebuah peti kayu berukir halus yang akan ditutup. Di atasnya, bunga kamboja berserakan seperti doa-doa yang bertaburan di tengah jalan. Aku tahu siapa yang ada di dalamnya. Bahkan sebelum mataku sempat menatap papan nama kecil di ujung peti, aku amat tahu.

Suara-suara samar masuk ke telingaku.

“Pukul dua siang dibawa ke bandara…”

“Setelah samapi langsung melakukan prosesi ngaben di kampung halamannya…”

‘Ngaben’, Kata itu terasa asing di benakku tapi akrab di nadi. Sebuah upacara untuk melepaskan jiwa, dengan api yang membersihkan, api yang akan mengantar Tanaya pulang. Tapi bagiku, itu hanyalah api yang membakar sisa-sisa harapan kecilku.

“Aku akan tetap duduk di bangku yang sama Tanaya, sebelah kanan tempatmu. Dunia boleh berubah, tapi aku tidak akan pergi. Kamu tetap sahabatku. Kamu tetap ayu.”

Dan aku akan terus hidup… dengan satu kursi kosong di sampingku yang tak akan pernah terisi lagi.

Sekarang kita bukan hanya berbeda keyakinan, suku, ataupun bahasa. Sekarang dunia kita pun sudah berbeda.

Kau di sana dalam keabadian yang sunyi,

dan aku di sini, di dunia yang terasa makin sepi tanpamu.

Aku akan tetap memanjatkan doa, dengan caraku. Karena aku tahu, meski jalan kita tak sama, kita masih memandang ke arah yang sama. Tuhan kita tetap satu.

Jadi jika esok angin menyentuh keningmu,

anggap saja itu aku yang sedang mengirimkan rindu.

Dan jika senja terasa lebih hangat dari biasanya, barangkali itu doaku yang sedang menelusup di antara cahaya.

Tidurlah dengan damai Tanaya.

Karena walau kau telah pergi,

namamu masih tinggal di dadaku—

tak akan pernah ikut dikremasi oleh waktu.

END

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait