WhatsApp-Image-2026-03-26-at-18.37.54
JERITAN DAN API DENDAM MASA LALU

JERITAN DAN API DENDAM MASA LALU

Karya: Nur Aisyah

 

Mahesa berdiri di halaman sekolah, memandangi bangunan yang selama tiga tahun terakhir menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya sebagai seorang siswa SMA. Di sekelilingnya, teman-teman sekelasnya berkumpul berbagi tawa dan air mata dalam momen perpisahan yang penuh haru. Hari kelulusan telah tiba, membawa kebahagiaan sekaligus kesedihan yang mendalam. Mereka semua sadar bahwa jalan hidup mereka akan segera bercabang, masing-masing mengejar impian dan takdir mereka sendiri.

Mahesa menghela nafas panjang, mencoba menenangkan perasaannya yang campur aduk. Ia menatap wajah-wajah familiar di sekitarnya, sahabat-sahabat yang telah berbagi suka duka selama masa sekolah. Terutama Indra dan Wira, dua sahabat dekat yang selalu ada di sisinya. Mereka bertiga seperti trio tak terpisahkan, selalu bersama dalam setiap kegiatan baik di dalam maupun di luar sekolah.

“Woy bro, pokoknya nanti kita harus sering-sering ketemu ya walaupun udah beda kota nanti,” tutur Indra dengan senyuman yang dilapisi perasaan sedih, matanya berkaca-kaca.

“Jangan lupain kita ya, Hes. Tetap jaga komunikasi,” tambah Wira, mencoba tersenyum meski terlihat jelas kesedihannya.

Mahesa mengangguk merasakan beratnya perpisahan ini. “Pasti, bro. Kalian juga jangan lupain gue. Kita harus tetap solid, meski jarak memisahkan.”

Pelukan hangat dan kata-kata perpisahan menghiasi momen itu, meninggalkan kenangan manis yang akan selalu dikenang Mahesa. Ia tahu bahwa Surabaya kota di mana ia akan melanjutkan kuliah, bukan hanya tentang mengejar impian akademis, tetapi juga tentang menjalani fase baru dalam hidupnya, jauh dari orang-orang yang dicintainya.

Saat Mahesa menaiki bus yang akan membawanya ke Surabaya, ia menatap keluar jendela mengingat kembali setiap detik kenangan bersama teman-teman dan keluarganya. Di dalam hatinya, ia berjanji untuk tetap menjaga komunikasi dengan mereka, meskipun jarak dan waktu kini menjadi tantangan baru.

Setibanya di Surabaya, Mahesa disambut dengan hiruk-pikuk kehidupan di kota besar ini. Setelah beberapa hari mencari tempat tinggal, akhirnya ia menemukan sebuah kos-kosan yang terlihat sangat bagus dan modern. Bangunan tiga lantai itu dipenuhi dengan penghuni yang ramah dan berbagai fasilitas yang memadai. Kamar kosnya pun nyaman dan bersih, membuat Mahesa merasa betah.

 

Mahesa duduk di kursi kecil di kamar kos barunya, menghirup aroma kopi yang menguar dari cangkir di tangannya. Mahesa tersadar jika kamarnya berubah begitu panas dari sebelumnya, ia berpikir mungkin karena perubahan cuaca di Surabaya.

Setelah beberapa minggu menempati kamar kosnya, Mahesa mulai mengalami mimpi aneh di setiap malamnya. Di dalam mimpinya, ia melihat orang-orang yang sangat mirip dengan teman kosnya, menjerit meminta pertolongan. Mereka terjebak dalam kebakaran hebat yang melalap bangunan kos yang sama persis dengan tempat tinggalnya sekarang. Setiap malam, mimpi itu selalu datang dan semakin mengerikan, membuat Mahesa terbangun dengan keringat dingin membasahi tubuhnya.

Pagi hari, ketika Mahesa mencoba bercerita kepada teman-teman kosnya tentang mimpi-mimpi itu, mereka hanya tertawa dan menganggapnya terlalu banyak menonton film horor. Namun, Mahesa merasakan sesuatu yang aneh. Setiap kali ia pulang dari kampus, di koridor panjang menuju kamarnya ia sering mendengar suara-suara samar, seperti jeritan meminta pertolongan, meski tak ada siapapun di sana.

Di kampus barunya, Mahesa dengan cepat beradaptasi dan mulai menjalin pertemanan dengan mahasiswa lainnya. Di antara teman-teman barunya, ada tiga orang yang menjadi dekat dengannya, yaitu Ibnu, Sultan dan Dita. Ibnu dan Dita asli orang Surabaya sedangkan Sultan, sama seperti Mahesa yaitu dari luar kota. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di kantin kampus, berbicara tentang kuliah, hobi, dan kehidupan sehari-hari.

Suatu siang di kantin, ketika mereka sedang makan siang, Dita bertanya kepada Mahesa, “Eh, Mahesa, kamu tinggal di mana sekarang? Kan kamu baru di Surabaya.”

Mahesa tersenyum dan menjawab, “Aku tinggal di kos-kosan di Jalan Melati. Bangunannya bagus, modern, dan penghuninya ramah.”

Ibnu yang mendengar jawaban itu, seketika menghentikan aktivitasnya dan menatap Mahesa dengan wajah kaget. “Di Jalan Melati? Yang mana tepatnya Hes?”

“Yang tiga lantai, di ujung jalan itu. Kayaknya kos-kosan itu cukup terkenal di sini,” jawab Mahesa santai, sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.

Dita juga ikut menunjukkan ekspresi terkejut. “Maksudmu kos-kosan yang di sudut jalan itu? Yang berwarna putih?”

Mahesa mengangguk. “Iya, yang itu. Kenapa? Kalian tahu tempat itu?”

Ibnu dan Dita saling berpandangan, mereka ragu sejenak sebelum akhirnya Ibnu berkata, “Hes, kamu tahu nggak sih, kos-kosan itu pernah mengalami kebakaran besar lima tahun yang lalu kalau enggak salah. Setahuku, sejak kejadian itu, bangunan itu nggak pernah dipakai lagi. Bahkan, katanya banyak yang bilang tempat itu berhantu.”

 

Mahesa terdiam, merasakan ada sesuatu yang aneh. Ia mencoba mengingat-ingat kembali mimpinya tentang kebakaran dan jeritan minta tolong yang menghantuinya setiap malam.

“Kamu yakin, Mahesa? Setahuku juga, sekarang bangunan itu cuma puing-puing sisa kebakaran,” tambah Dita, suaranya mengecil dengan tatapan serius.

Mahesa merasa jantungnya berdegup kencang. “Tapi aku tinggal di sana. Kos-kosan itu penuh dengan penghuni, bangunannya juga bagus dan kokoh. Aku nggak mungkin salah.”

“Mungkin sudah diperbaiki dan diisi kembali,” sahut Sultan yang sedari tadi menyimak pembicaraan mereka.

Semuanya mengangguk setuju dan melanjutkan makan siang mereka. Namun, hati Mahesa masih merasa ganjal karena semua yang dikatakan temannya berkaitan dengan mimpi dan kejadian aneh yang menimpanya.

Malam setelah pembicaraan mengenai kos tempat tinggalnya ini, Mahesa termenung di tempat tidurnya sembari menatap langit-langit kamar. Ia terlalu pening memikirkan omongan kedua temannya tadi siang hingga terlelap tidur, kemudian mimpi itu muncul kembali menjadi lebih nyata dari sebelumnya.

Mahesa terbangun dengan napas tersengal-sengal, dikelilingi oleh kobaran api yang semakin besar. Panik, ia berlari keluar kamar mencoba menemukan jalan keluar. Di sepanjang koridor, ia melihat tubuh-tubuh tergeletak, mayat-mayat yang terbakar hangus. Jeritan mereka seolah-olah menjadi alarm tanda kebakaran di telinganya.

Mahesa terus berlari, menghindari kobaran api yang semakin mendekat. Ketika ia berlari menuju tangga, sesuatu mencengkeram kakinya dengan kuat. Ia terjatuh ke lantai, pandangannya beralih ke bawah, di sana ia melihat potongan tangan hitam dengan kulit yang mengelupas terbakar, mencengkeram pergelangan kakinya. Mahesa menelan ludah, matanya melebar karena ketakutan.

Mahesa berusaha melepaskan cengkeraman tangan itu, namun tenaganya seolah terserap oleh rasa takut yang begitu dalam. Tubuhnya begitu gemetar, keringat dingin mengucur deras di dahinya.

Tiba-tiba, pundaknya terasa begitu berat, seolah ada sesuatu yang naik ke atas tubuhnya. Mahesa melirik ke samping dan melihat sosok lain, seorang wanita dengan rambut panjang yang terurai kusut dan wajah yang penuh luka bakar, duduk di atas pundaknya.

Sosok hantu itu sangat mengerikan, matanya kosong tanpa bola mata, dan mulutnya menganga dengan suara raungan yang memekakkan telinga. Wanita itu meraung dengan suara yang mengerikan, “Selamatkan aku! Bawa aku keluar dari sini!”

 

Suara raungan mereka mengisi telinganya, membuatnya hampir kehilangan akal. Dalam keputusasaan, ia merapal doa-doa yang diingatnya sejak kecil.

“Ya Allah, lindungi aku. Allahu Akbar, lindungi aku…” suaranya bergetar saat ia terus merapalkan doa, berharap mendapatkan kekuatan.

Hingga akhirnya ia mencapai pintu keluar dan terhuyung keluar dari bangunan itu. Nafasnya tersengal-sengal, tubuhnya gemetar hebat. Di luar, ia melihat ke arah bangunan kos yang sekarang terlihat seperti puing-puing yang hangus.

Tiba-tiba, ia merasakan tangan seseorang menyentuh bahunya. Ia menoleh kaget dan melihat seorang pria tua dengan mata yang penuh kesedihan. “Nak, kau baik-baik saja?” tanya pria itu dengan suara bergetar.

Mahesa mengangguk, masih terkejut. Pria tua itu kemudian bercerita, “Lima tahun yang lalu, bangunan ini mengalami kebakaran hebat. Banyak mahasiswa yang terjebak di dalamnya dan tidak berhasil selamat. Sejak saat itu, bangunan ini dibiarkan kosong, hingga kini.”

Mahesa tersentak. “Tapi… tapi aku tinggal di sini, bersama teman-teman kos lainnya,” ujarnya dengan suara gemetar.

Pria tua itu menggeleng. “Bangunan ini sudah lama tak berpenghuni, Nak. Mungkin yang kau lihat hanyalah bayangan masa lalu.”

Mahesa kembali menoleh ke arah bangunan kos yang sekarang terlihat hanya sebagai puing-puing hitam dan hangus. Ia merasakan dingin menjalari tulang-tulangnya. Ternyata, selama ini ia tinggal di tempat yang dihantui oleh arwah-arwah yang tidak tenang, terjebak dalam mimpi buruk kebakaran yang tak pernah berakhir.

Kemudian Mahesa melihat kembali pada pria tua itu, namun bayangan pria itu pun sudah tak terlihat oleh kedua bola matanya, bagai lenyap dalam hitungan detik. Mahesa dibuat lemas dan linglung oleh semua yang terjadi di malam ini.

Dengan tubuh yang masih sangat gemetar, Mahesa berjalan menjauh dari bangunan itu. Baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba dunia di sekelilingnya berputar, Mahesa merasa tubuhnya ditarik ke belakang dengan kekuatan yang tak terlihat dan seketika ia terlempar ke masa lalu.

Saat kesadarannya pulih, Mahesa mendapati dirinya berdiri di depan kos-kosannya yang tampak utuh, ia melihat para penghuni kos berjalan beraktivitas, tertawa, dan bercanda satu sama lain. Mereka terlihat begitu damai dan bahagia, tanpa mengetahui nasib tragis yang akan menimpa mereka.

 

Di sudut salah satu ruangan, Mahesa melihat seorang gadis yang sedang berbicara dengan seorang pria. Mahesa melihat pria itu dengan wajahnya penuh kemarahan, terlihat memohon sesuatu. Dari kejauhan, Mahesa bisa mendengar percakapan mereka.

“Tolong Amel beri aku kesempatan. Aku benar-benar mencintaimu,” kata pria itu dengan nada putus asa.

Amel menggeleng dengan lembut. “Aku tidak bisa Bastian, Aku sudah menjelaskan alasanku.”

Amarah dan kekecewaan tergurat jelas di wajah Bastian, ia berbalik dan pergi dengan langkah berat meninggalkan Amel yang tampak sedih namun tegas dalam keputusannya.

Tiba-tiba Mahesa seperti ditarik kembali dan dunia berubah menjadi gelap, ia terbawa ke belakang gedung kos-kosannya. Mahesa melihat Bastian dengan tangan gemetar penuh kebencian, Bastian menyalakan api dan membakar bagian belakang kos-kosan. Api itu cepat merambat, menjalar ke seluruh bangunan. Para penghuni terjebak dalam kepanikan, jeritan minta tolong memenuhi udara. Mahesa merasakan ketakutan mereka, namun ia tak bisa berbuat apa-apa selain menyaksikan tragedi itu terulang.

Tiba-tiba sosok Amel dengan wajah yang hancur karena terbakar muncul di hadapan Mahesa. “Tolong… bantu kami,” bisik arwah itu. “Kami tidak bisa tenang sebelum dia ditangkap dan keadilan ditegakkan.”

Mahesa merasakan tekad yang kuat dalam dirinya, ia mengangguk berjanji dalam hatinya untuk membantu mereka. Dalam sekejap, dunia di sekitarnya kembali berputar dan ia kembali ke masa kini, berdiri di depan puing-puing kos-kosan yang hangus.

Dengan informasi yang ia peroleh, Mahesa segera melapor ke polisi. Ia memberikan detail tentang peristiwa masa lalu yang ia saksikan, berharap ada petunjuk yang bisa mengarah pada penangkapan Bastian. Walaupun pada awalnya semua yang dikatakan oleh Mahesa ke pihak polisi dianggap lelucon saja, namun Mahesa mencoba meyakinkannya. Penyelidikan pun dimulai, dan polisi akhirnya berhasil menemukan bukti yang mengarah kepada pelaku.

Bastian yang kini telah berumur dan mencoba melupakan masa lalunya, akhirnya ditangkap dan diadili atas kejahatannya. Proses pengadilan berjalan dengan lancar, dan Bastian dinyatakan bersalah atas tindakannya yang menyebabkan kematian penghuni kos.

Pada malam setelah vonis dijatuhkan, Mahesa kembali ke puing-puing kos-kosan bersama teman kampusnya. Ia merasakan kehadiran arwah-arwah yang kini tampak lebih tenang. Satu per satu, mereka muncul di hadapannya, termasuk arwah Amel. Mereka tersenyum lembut, berterima kasih atas bantuan Mahesa.

 

“Terima kasih, Mahesa. Kini kami bisa beristirahat dengan tenang,” bisik Amel sebelum mereka semua perlahan menghilang, menuju kedamaian abadi.

Mahesa merasa lega dan bahagia karena telah membantu menyelesaikan kisah tragis yang menghantui tempat itu selama bertahun-tahun. Ia menutup matanya, berdoa agar arwah-arwah tersebut menemukan kedamaian yang mereka cari. Di hatinya Mahesa tahu bahwa ia telah melakukan sesuatu yang berarti, membawa keadilan dan ketenangan bagi jiwa-jiwa yang terperangkap di masa lalu.

END.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait