WhatsApp-Image-2026-03-26-at-18.35.08-3
DIBALIK ATAP YANG BOCOR

DIBALIK ATAP YANG BOCOR

Karya: Nur Aisyah

Di sudut kota yang ramai dan terhimpit oleh bangunan-bangunan megah, dua anak remaja berjalan berdampingan. Hujan turun perlahan, mula-mula gerimis, rintik demi rintik turun, hingga deras membuncah seperti langit sedang menumpahkan beban yang selama ini ditahannya.

Orang-orang mulai berlari ke sana kemari, mencari tempat yang bisa dijadikan sebagai teduhan, hingga ibu kota terasa begitu sepi hanya terdengar derasnya air hujan berjatuhan.

“MAN AYO CEPAT HUJANNYA MULAI DERAS,” ujar anak laki-laki.

“Byur Byur Byur!”

Dua pasang kaki berbalut sepatu berlari melewati genangan air hingga menimbulkan suara langkah cepat dan terburu-buru, berpadu dengan cipratan air yang nyaring.

Tiba di sebuah perbatasan, dua anak itu melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan hari ini. Anak laki-laki berjalan lurus dengan suasana di depannya tertata rapih, bangunan rumah-rumah besar berdampingan menampilkan kemewahan. Sedangkan anak perempuan itu berjalan berbelok ke arah kanan, jalan yang tak pernah bisa dideskripsikan bagaimana suasananya.

Dua anak itu duduk di bangku SMP. Mereka adalah teman dekat, Edward dan Manda. Dua anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, jiwa keduanya masih sering goyah. Edward, anak laki-laki berwajah tegas dengan hidung amat mancung memperlihatkan adanya garis keturunan kolaborasi dua negara, ia adalah putra semata wayang dari keluarga Mahendra. Apapun yang ia inginkan mewah, mahal, dan sulit akan mudah ia dapatkan. Edward tumbuh dalam pelukan hangat dan berlimpah emas yang terkadang membuat langkahnya sedikit besar kepala.

Di sisi lain terdapat Manda, gadis berkaca mata dengan sikapnya yang amat tenang, bertutur kata lembut, dan penuh kesederhanaan. Ia seperti air yang memadamkan bara api. Setiap kali Edward mulai bersikap besar kepala, Manda hadir sebagai pengingat.

“Jangan terlalu sering mengangkat dagumu, Ed,” ujar Manda ketika melihat temannya terlalu angkuh. “Langit itu luas, dan kita hanya debu di sini.”

Edward akan menanggapinya hanya dengan tawaan. Baginya, ucapan temannya itu terlalu elegan untuk dicerna. Namun, ia menyayangi sahabatnya itu. Edward sadar dan tahu, Manda adalah satu-satunya manusia yang memandangnya bukan dari merk sepatu atau nilai uang.

Setiap akhir pekan, Edward selalu mengunadang Manda ke rumahnya, rumah besar berpilar marmer dan ukiran unik berlapis emas di setiap sudutnya. Mereka akan bermain game, mengobrol di taman rumah atau sekadar mendengarkan musik klasik dari speaker mahal.

Namun, satu hal yang selalu membuat Edward heran, Manda tak pernah mengundang ia ke rumahnya. Bahkan ketika Edward menyelidiki, Manda hanya tersenyum kecil, mengalihkan topik dengan cerita-cerita ringan.

Ada misteri dalam diri Manda, membuat hati Edward mulai digerogoti rasa ingin tahu, berniat mengungkap hal yang sebenarnya ia tak tahu dalam diri Manda.

Suatu sore, ketika dua tangan mulai melambai memisahkan kedua anak itu, Edward tak benar-benar pulang ke rumah. Ia mengikuti Manda dari kejauhan dengan hati yang amat penasaran. Ia menyelinap, menyatu dalam keramaian, mengikuti jejak sahabatnya hingga datang ke sebuah gang sempit yang begitu kumuh dan padat, hal tak pernah ia lihat sebelumnya. Edward sedikit merasa jijik dan hampir berteriak ketika seekor tikus yang begitu besar melewati dirinya, ia menggeram dalam hati. Banyak orang-orang di sekitar gang itu menyapa Manda dengan sangat ramah, sepertinya Manda benar-benar anak yang sangat baik.

Gang itu menuntunnya ke sebuah bangunan tua rapuh dengan cat mengelupas dan papan nama yang nyaris pudar bertuliskan “Panti Asih”.

Edward bersembunyi di balik pohon besar menatap Manda memasuki bangunan itu, ia melihat Manda berlari kecil memasuki panti dengan senyum tulus, menyapa anak-anak yang lebih kecil dengan pelukan dan sapaan-sapaan hangat.

Langit berubah menjadi gelap, gemuruh mulai terdengar mengeluarkan air yang sudah tak mampu untuk dibendung. Edward menyipitkan matanya melihat apa yang terjadi di sana meski tubuhnya sudah basah teguyur hujan.

Air hujan merembes dari atap yang bocor. Anak-anak mulai berlarian, mencari ember, baskom, bahkan mangkuk untuk menampung air yang menetes tak henti dari atas. Terlihat mereka semua tertawa, bukan karena bahagia, tetapi karena sudah terlalu biasa menghadapi situasi seperti ini. Beberapa ada yang menggigil, menatap langit-langit yang menganga seolah siap runtuh.

Manda ikut membantu. Ia berlari, memindahkan tikar yang mulai basah, mengangkat bayi kecil yang menangis kedinginan. Rambutnya basah kuyup, wajahnya pucat, namun senyumnya tetap hangat.

Edward tak bisa berkata apa-apa. Dadanya seperti sesak, ia termenung seakan dihimpit kenyataan yang baru saja menampar wajahnya. Di balik senyum dan baik hati Manda, tersembunyi luka yang tak pernah ia sama sekali tahu. Edward pulang dengan wajah pucat, kenyataan tadi seolah membuat otaknya berhenti bekerja.

Keesokan harinya, Edward hanya berdiam diri di tempat duduknya, meski Manda menyapanya tadi pagi. Manda sedikit heran, tak seperti biasa temannya seperti ini.

“Oh ayolah kenapa kau bersikap seperti ini, sangat tidak cocok sekali Ward..,” gurau Manda mencoba merayunya.

“Bawa aku bermain ke rumah mu hari ini,” tutur Edward.

Senyum Manda memudar, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, berpikir keras apa yang harus ia katakan. Edward lagi-lagi ingin pergi kerumahnya.

“Rumahku tak pantas kau lihat,” jawab Manda dengan senyum getir dan meninggalkan Edward sendiri.

Edward semakin yakin, ia merasa banyak yang disembunyikan oleh Manda, sesuatu yang bahkan bukan tentang kemiskinan.

Di hari yang sama setelah pulang sekolah, Edward kembali mengikutinya. Sepanjang jalan Edward terus memperhatikan sekitar, banyak orang yang tinggal dan hidup dengan tak layak. Ketika ia tidur beralaskan benda empuk, tapi mereka hanya beralasakan selembar koran saja.

Hari ini Edward lebih berani dari sebelumnya, ia mendekat ke rumah itu dan mencoba mengintip apa yang terjadi di dalam. Edward merasa aneh, bukan karena tempatnya. Tapi karena ketika Edward mengintip ke dalam, ia tidak menemukan suasana panti seperti kemarin. Tak ada canda tawa anak-anak, hanya kesunyian dan sepi menyelimuti bangunan tua itu.

Edward menahan napas, tapi naas kakinya tak sengaja menginjak kaleng. Suara nyaring itu menggema, membuat sosok yang diperhatikan tersadar.

Manda menoleh.

Mata mereka bertemu. Edward panik dan segera berlari menjauh dari Rumah Manda. Manda hanya menatap bayang yang semakin menghilang itu, Edward ternyata begitu penasaran pada dirinya? atau pada rumahnya.

Hari ini Manda tidak masuk sekolah, entah alasannya apa. Edward menunggu kedatangan Manda dengan terus-terusan menatap ambang pintu kelas, tapi sang empu tak kunjung terlihat.

Sedangkan di lain tempat, Manda sedang merenung bersama sosok wanita yang terbilang sudah berumur. Dua orang itu sangat menampakkan lelahnya.

“Kumaha ieu teh, Dek? Urang teh tos teu gaduh artos. Artos ti ibu anjeun oge tos lami seep, dagang kue oge tos kirang laris, seueur deui nu ngutang,” tutur wanita itu dengan logat khasnya.

Dia Bi Imah, sosok adik dari sang ibu Manda. Bi Imah lah yang menjaga dan mengurus Manda dan anak panti sejak lahir sampai sekarang. Lantas kemana ibu Manda?

Deru suara mobil terdengar halus di telinga membuat lamunan mereka buyar, mobil berwarna gelap nan mewah itu berhenti di depan mereka. Anak-anak panti satu persatu keluar, mereka tampak takjub dengan roda empat itu.

“Ck ck ck, kayake organ aku wae ora cukup kanggo tuku mobil iki.” Celetuk salah satu anak dengan suara medoknya.

“Saha ieu, Man? Bibi sieun jalmi teh rek ngagusur imah urang,” tutur Bi Imah gusar.

“Permisi Bu, saya Hermawan, Ayah dari Edward,” sapa pria itu.

“Edward…,” lirih Manda mengerutkan keningnya.

Meskipun Manda sering pergi bermain ke rumah Edward, tapi inilah pertama kali ia melihat ayah Edward yang super sibuk itu.

Manda bersama Bi Imah hanya diam terpaku, otak mereka dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan pasti. Hati Manda waspada, ia belum tahu apa tujuan mereka datang.

“Aku sudah tau semua, Ayah… ingin membantu. Renovasi. Makanan. Pakaian. Tempat tidur. Semuanya yang kalian butuhkan,  biarkan kami membantu,” jelas Edward.

Sang ayah mengangguk pelan. “Saya tidak tahu siapa kamu, Nak. Tapi saya tahu… panti ini butuh bantuan. Dan kamu butuh lebih dari sekadar atap yang tak bocor.”

**

Renovasi mulai dimulai, setiap harinya bahan bangunan berdatangan. Para tukang bekerja siang malam. Semua anak-anak panti bersorak setiap melihat dinding mereka dicat ulang, kasur mereka diganti, lemari baru. Edward bolak-balik datang, tak hanya cuman dirinya, tapi ia membawa teman-temannya yang lain. Mereka datang membawa makanan, mainan, dan buku-buku. Terkadang mereka ikut bermain dengan anak-anak kecil panti.

Di tengah kesibukan renovasi, saat pembongkaran bagian ruang loteng lama, salah satu tukang menemukan sebuah kotak kayu usang tertutup debu dan sarang laba-laba. Tukang memberikannya pada Tuan Hermawan karena di atas kotak terdapat kertas menempel bertuliskan HERMAWAN.

Ayah Edward itu membuka kotak yang diberika oleh tukang, di dalamnya terdapat foto wanita muda bersama seorang bayi… dan sepucuk surat. Surat itu ditujukan pada Tuan Herman, ya dirinya sendiri.

Tangannya bergerak membuka sepucuk surat itu dengan gemetar saat membaca isinya.

“Herman… aku sama sekali tak butuh hartamu. Aku hanya ingin kau mengakui aliran darahmu yang lain. Aku tak bisa menanggung malu ini, biarkan anak kita hidup tanpa beban…. Semoga kelak kau menemukan dia “Amanda Chelsea Hermawan.”

Warna pucat mulai menghidupi wajah Ayah Edward, perlahan ia bersandar ke dinding, seolah semua udara pergi hingga sesak. Ayah Edward memandang foto bayi itu, ini sangat mirip dengan Manda.

“ini… tulisannya Lestari…”

“Siapa Lestari…?” Tanya Edward membuat ayahnya terperanjak kaget.

Ayahnya menjawab lirih. “Dia… ibumu, dan.. juga ibu Manda,” tutur sang ayah yang membuat Edward terkejut bukan kepalang.

Edward jatuh berlutut, memandang foto di tangan ayahnya.

“Jadi… selama ini…?”

Ayah Edward menatapnya dengan mata merah basah. “Maafkan aku… Aku terlalu pengecut untuk menjadi seorang ayah…”

“Ini tak bisa lagi kau simpan, Yah…,” lirih Edward nyaris tak terdengar.

Beberapa menit berlalu dengan hening,  sebelum Edward berdiri perlahan. Matanya tertuju menatap ayahnya dengan luka dan perasaan bingung yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, ini terlalu sulit dipercaya.

“Kita harus beritahu Manda sekarang juga!!!” Ucap Edward mantap.

Pak Hermawan mengangguk ragu, napasnya berat. “Bagaiman jika Manda membenci ayah….”

“Dia berhak tahu,” tegas Edward, kali ini suaranya lebih rendah lembut, namun dengan pendirian teguh.

Manda tengah duduk anteng di ruang tengah panti yang sekarang sudah lebih nyaman karena renovasi, ia menemani dua anak kecil bermain boneka dari potongan kain perca.

Suara langkah kaki Edward dan ayahnya yang masuk membuatnya menoleh, lalu berdiri ketika melihat wajah mereka yang tegang.

“Ada apa?” Tanyanya pelan.

Edward menatap mata itu dalam-dalam, lalu menyerahkan kotak itu.

Manda melihat dan membukanya. Alisnya mengernyit.

“Siapa ini?” Tanyanya.

Pak Hermawan menelan ludahnya, pahit sangat terasa pahit. “Itu foto ibu dan kau saat bayi…. Aku…, aku ayahmu, Manda.”

Seisi ruangan terasa seperti membeku. Wajah Manda pucat, jemarinya gemetar memegang lembaran foto itu.

“Hah… ini… ini tidak masuk akal…” Suaranya begitu lirih.

Bi Imah yang diam-diam berdiri di belakang pintu, masuk dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Manda menatap Bi Imah seolah semua ini hanya drama semata.

“Manda… ieu teh leres.”

“Kuring nyumputkeun ieu lila… sabab hayang teh ngajaga hate anjeun. Tapi ayeuna waktuna kabeneran mucunghul.”

Awal pertemuan Bi Imah dengan Ayah Edward pada saat itu, membuat Bi Imah sedikit kaget ketika mendengar orang itu bernama Hermawan. Bi Imah langsung teringat pada kakaknya yang telah tiada karena menderita, namun Bi Imah tidak langsung menyadari bahwa orang itu benar ayah dari Manda.

Tangis Manda pecah, ia meraung memeluk Bi Imah dengan sangat erat, seolah pernyataan ini mengganggu jiwanya.

“Manda…. Saya tau pasti kamu sangat membenci saya. Saya tak minta kamu untuk memanggil ayah, tapi biarkan saya menebus semua ini… bukan dengan uang… Tapi dengan menebus waktu, cinta, dan tanggung jawab yang dulu saya abaikan.”

Edward mendekati Manda, menatap mata merah dengan buliran air itu sangat menyakitkan. Edward begitu merasa bersalah, kehidupan yang ia jalani selama ini bak seorang raja dengan segala yang ia inginkan, seolah semesta selalu memberinya. Tetapi, saudaranya menderita terpuruk dalam nestapa yang tak pernah berisik.

Di hari itu, kehidupan Manda berubah semuanya, tak ada lagi tangisan, tak ada lagi kepedihan dan penderitaan. Ayah Edward menjamin seluruh kehidupan Manda begitupun dengan anak-anak panti lainnya, ia menganggap semua adalah anak kandungnya.

Meski sulit bagi Manda menerima kenyataan itu, tapi tak menutupi bahwa ia juga bahagia. Panti Asih, bangunan tua yang menyimpan banyak luka, kini berubah menjadi bangunan penuh kebahagiaan. Bangunan yang mengajarkan tentang kepedulian, memaafkan, dan tentang menyambut yang dulu pernah hilang.

END

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait