Di Balik Keterlambatan
Karya: Nur Aisyah
Berlari tergopoh-gopoh menyusuri trotoar dengan jalanan yang sudah padat oleh orang beraktivitas. Keringat mulai bercucuran membasahi pelipisnya walaupun matahari belum sepenuhnya muncul. Matanya sesekali melirik jam digital di tangan kirinya, menunjukan pukul 06.58. Dua menit lagi gerbang sekolah akan ditutup.
Ia menggertakkan gigi mempercepat langkah dan memaksa kakinya untuk berlari secepat mungkin. Napasnya beradu dengan detak jantung, tetapi semangatnya membuncah. Ini bukan pertama kali dirinya terlambat, tapi kali ini dia benar-benar tidak ingin melakukannya lagi.
Hari ini ada ulangan matematika dan bu Sari terkenal tidak memberi kesempatan kedua pada siapapun yang tidak mengikutinya, ia tak akan peduli entah itu sakit atau apapun.
Gerbang sekolah terlihat menjulang tinggi di depan, satpam mulai menarik pintu perlahan, tanda waktunya habis. Hendra berteriak kecil dalam hati dan menambah kecepatan larinya. Sayangnya, tepat saat ia hendak melangkah masuk, pintu besi itu tertutup rapat di hadapannya. Bunyi klik terdengar nyaring, seolah menyegel nasibnya pagi itu.
“Sia-sia,” gumamnya lirih sambil membungkuk kelelahan.
Ia menempelkan dahi ke tiang gerbang, berharap bisa melewati waktu dan membuka kembali pagi yang tadi disia-siakan untuk menunda-nunda bangun. Ponselnya bergetar, pesan dari Nara, sahabatnya.
“Ulangan uda dimulai, bu Sari cuma kasih 10 menit buat ngerjain, terus keluar kelas.”
Hendra menggenggam ponselnya erat. Kekesalan, penyesalan, dan kelelahan bercampur menjadi satu. Tapi justru di saat itu, ia merasa seperti ditampar kenyataan.
Ia menatap langit dengan awan yang bergerak. Langit nan biru yang tadi ia abaikan saat sibuk berlari, ternyata sangat cerah dan indah. Mungkin ini bukan sekadar tentang gerbang yang tertutup, tetapi ini tentang pintu kesadaran yang belum sepenuhnya terbuka. Tak lama suara sepatu berhak terdengar dari arah dalam. Langkah tegas dan suara batuk ringan yang sudah sangat dikenalnya membuat tubuh Hendra refleks menegang.
“Kamu lagi kamu lagi,” ucap suara itu tanpa ekspresi. Dari balik gerbang muncul sosok perempuan paruh baya berkerudung hitam dan mengenakan rompi pengawas. Wajahnya tampak lelah, bukan karena pekerjaan, tapi karena terlalu sering menghadapi hal yang sama.
“Hendra, Hendra… kamu pikir sekolah ini punya bapakmu apa?” Ujar bu Siti, guru BK yang terkenal galak dan tak kenal kompromi.
“Lapangan, sekarang! Kamu sudah tahu prosedurnya.”
Ia digiring ke tengah lapangan seperti biasanya. Hendra dihadapkan ke arah matahari dan tiang dengan bendera yang berkibar. Berdiri diam mengangkat tangan ke atas halis memberi hormat sekaligus sedikit berlindung dari terik matahari, ia menjadi tontonan murid-murid yang berlalu-lalang.
Beberapa siswa menertawakan. Beberapa juga ikut mencibir.
“Main game terus sih,” bisik seseorang di sudut koridor.” Yang lain menyahut, “Atau begadang nonton bola, sok-sokan kuat padahal kesiangan!”
Hendra berdiri tegak di tengah lapangan, matanya menyipit menahan silau. Panas matahari pagi seperti ikut serta menghukum dirinya, membakar kulit dan harga dirinya. Beberapa siswa lalu-lalang, melirik dengan ekspresi campur aduk antara heran, bosan, dan geli.
Itu bukan kali pertama. Bukan juga kedua ataupun ketiga. Sudah lima kali dalam dua minggu Hendra datang terlambat. Dan setiap kali terlambat, Bu Siti lah yang menemukannya di gerbang.
“Kenapa sih, Ndra? Hidup kamu itu cuma butuh bangun pagi, mandi, dan berangkat sekolah,” kata Rendi, teman sekelasnya, saat istirahat.
“Kalau males, ya mending enggak usah sekolah.”
“Kamu gak akan ngerti,” ujar Hendra, ia hanya tersenyum kecil, lalu pergi ke perpustakaan, tempat paling sepi untuk sembunyi dari tudingan.
Suatu pagi, saat upacara bendera, namanya dipanggil ke depan siswa-siswi yang berbaris rapi di bawah tiang bendera.
“Hendra, kelas XI IPA 3 silahkan ke depan,” suara bu Siti menggema dari mikrofon lapangan.
Hendra melangkah ke depan. Jantungnya berdetak cepat. Ia berdiri menghadap seluruh siswa-siswi dan guru dengan kepala tertunduk.
“Hendra telah melanggar tata tertib sekolah sebanyak delapan kali keterlambatan dalam satu bulan, berdasarkan hasil rapat dewan guru, jika terjadi sekali lagi pelanggaran serupa… maka Hendra akan dikeluarkan dari sekolah. Jadi, untuk siswa-siswi yang lain jangan coba-coba untuk mencontoh ini!”
Seluruh lapangan terdiam. Beberapa siswa membelalak. Beberapa hanya berbisik, “Pantes.”
Tangannya bergetar, bukan karena takut akan dikeluarkan, tapi karena ia tahu… jika dikeluarkan, tamat sudah harapan ibunya yang dulu sering berkata, “Sekolah itu warisan terakhir yang ibu bisa kasih.”
Hendra menatap langit-langit kamarnya dengan jenuh, menggigit bibir melampiaskan kelelahan yang merengkuh tubuhnya. Telinganya masih terngiang-ngiang ucapan bu Siti pagi tadi: “Jika satu kali lagi terlambat, kamu akan dikeluarkan dari sekolah.”
Pukul 9 malam ia bangkit dari baringnya, meskipun badannya sedang menanggung banyak beban dan otak dipenuhi beribu-ribu pikiran. Ia kembali membuka kios kecil tempatnya menjual gorengan dan kopi Sachet. Warung itu bukan miliknya. Di sana ia hanya menjaga.
Upahnya dihitung per jam, tapi cukup untuk dirinya membayar listrik dan membeli beras. Pelanggan yang datang ke warungnya kebanyakan bapak-bapak yang baru pulang kerja, tukang ojek, beberapa sopir, dan pedagang malam.
Pukul 12, ia menutup warung lalu mengayuh sepeda ke rumah. Tenang, itulah satu kata yang menggambarkan malam ini, tapi berbeda dengan kepalanya yang sangat penuh oleh sesuatu hal. Di rumah, masih ada cucian dari tetangga yang harus ia setrika. Ia menatap tumpukan baju seperti melihat gunung.
Tapi ia tahu, kalau tak dikerjakan malam ini, ia tak bisa makan besok. Tangan Hendra bekerja dan bergerak dengan berat, tapi matanya hampir terpejam. Jarum jam terus bergerak berputar dengan cepat, dan saat matanya tak kuat lagi menahan kantuk, ia tertidur di atas setrikaan yang masih panas.
Pagi itu, ia bangun dengan wajah kaget. Jam sudah menunjukkan 06.57. Panik. Ia langsung ganti baju tanpa mandi, hanya dengan membasuh mukanya kemudian menyambar tas yang tergantung di kamarnya. Hendra menggayuh sepedanya dengan napas tersengal-sengal. Di sepanjang jalan, ia terus menggumam, “Tolong… jangan tutup gerbangnya dulu…”
Tapi seperti biasa, gerbang menjulang tinggi itu menutup tepat saat ia sampai. Bu Siti sudah berdiri di sana, wajahnya datar. Tak marah, tak juga iba. Hanya hening.
“Masuk ke ruang BK,” tuturnya singkat.
Di ruang BK, tiga guru sudah menunggunya termasuk wakil kepala sekolah. Mereka menatap Hendra dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.
“Hendra,” panggil pak Wahyu, suara berat dan dingin menghunus dirinya.
“Kami sudah sepakat. Kamu tidak bisa lagi melanjutkan sekolah di sini, kamu bisa memcari sekolah yang masuk sesuai jam kamu bangun tidur. Ini sudah tidak bisa ditoleransi, Hendra.”
Dunia runtuh. Mata Hendra kosong. Ia ingin membantah, ingin menjelaskan, tapi suara itu hanya menggema di kepalanya. Tak keluar.
Ia pulang dengan langkah gontai mendorong sepedanya. Di tengah jalan, ia berhenti. Duduk di trotoar. Tangisnya pecah, ia tidak peduli meski berasa di tengah jalan atau diperhatikan oleh orang-orang. Untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal, Hendra benar-benar menangis lagi.
“Maaf, bu… aku gagal jaga warisan Ibu…”
Meski dunianya seolah berhenti, ia tahu bahwa hidup harus terus berjalan. Dunia tidak akan berhenti hanya karena ia bersedih, dan luka hatinya tak akan membuat orang lain peduli. Setiap orang sibuk dengan pergumulannya sendiri, tak sempat melirik duka yang bukan milik mereka. Maka, meskipun hatinya remuk, ia harus tetap belajar berdiri, melangkah pelan-pelan, menyusun ulang harapan di tengah serpihan kenyataan yang terjadi.
Hendra membuka warungnya di siang hari yang membuat beberapa pertanyaan dari pedagang lain. Wajan di hadapannya mulai panas, aroma pisang goreng menyeruak di antara asap polusi tipis.
“Lho, biasane bengi jam sanga anyar buka… kok saiki awan wis buka to?” Tanya bu Darmi penjual tempe dengan logat medoknya.
“Nggih bu,” jawab Hendra dengan senyum tipis.
“Memang gak sekolah le biasanya kan sekolah dulu?” Tanya pedagang yang lain.
Suara-suara itu hanya dibalas senyum tipis oleh Hendra. Ia tetap sibuk mengaduk adonan, menata meja, dan menyapu lantai. Tanpa menjelaskan apa-apa.
Yang ia tahu, hidup tak bisa ditunda, bahkan ketika harapan sekolah telah tertutup rapat.
Kegiatannya kini hanya membuka warung kopi, mengerjakan setrikaan yang dititip oleh para tetangga, dan mencari informasi tentang sekolah yang masuk pukul siang hari.
Ditengah kesibukannya menjaga warung, akhir-akhir ini ia merasa banyak diperhatikan oleh orang-orang. Belakangan ini ada beberapa orang yang berhenti tepat di depan warungnya, tapi hanya sekedar memperhatikan kemudia melengos pergi lagi.
Untuk yang terakhir, seorang wanita berhenti di depan warungnya. Mengenakan kerudung cokelat dan membawa tas selempang kecil. Wajahnya sangat amat ia kenali. Bu Siti.
Guru yang pernah berkali-kali memarahi Hendra karena keterlambatan. Ia melangkah pelan masuk ke warung. Tak ingin langsung menyapa. Hanya duduk diam di bangku kayu paling pojok, memperhatikan dari kejauhan.
Hendra sedang menyeduh kopi untuk pelanggan. Wajahnya penuh peluh, tangan kirinya menggenggam sisa piring kotor bekas pelanggan, tangan kanannya mengelap meja. Ada mata lelah di wajah itu. Tapi tak ada keluhan sedikit pun.
Sesaat kemudian, seorang pria datang memberi selembaran uang dan sempat berujar.
“Ndra, makasih ya udah bantuin angkat-angkat kemarin malem. Untung kamu kuat ya, dari subuh sampe malem.”
“Malam?” Lirih Bu Siti bertanya-tanya.
Tak lama, seorang ibu tua lainnya berkata sambil menepuk bahu Hendra, “Anak sepertimu langka, Ndra. Ibumu pasti bangga di sana, kamu masih bisa senyum walau hidupmu nggak gampang, tetep semangat yaa…”
Ucapan itu menghantam hati bu Siti. Ia menoleh ke luar, menatap jalan yang basah karena sisa hujan. Lalu pelan-pelan, air mata itu turun. Tanpa suara. Ia baru tahu…Ternyata semua keterlambatan itu bukan karena Hendra malas.
Setelah semuanya pergi, bu Siti terbangun menghampiri Hendra.
“Hendra…” Suaranya serak.
“Bu… Bu Siti?” Hendra menoleh kaget melihat bu Siti berada di warungnya. Ia menatapnya, mata merah, bibir bergetar. Ia genggam tangan Hendra dengan erat.
“Maafkan Ibu…” bisiknya.
Dan pagi itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Hendra tak bicara apa-apa. Ia hanya menunduk bingung ingin bersikap apa.
Flashback
Bu Siti menemukan tas lusuh milik Hendra yang tertinggal di ruang BK, ia membukanya untuk mencari nomor orang tua Hendra. Tapi yang ia temukan justru setumpuk kertas berisi surat RT, bukti laundry, daftar belanjaan, dan… foto ibunya dengan tulisan tangan di belakang.
“Untuk Hendra, anak ibu yang kuat. Kalau Ibu sudah tak ada nanti, jangan berhenti sekolah ya. Ibu titip mimpi ini.”
Bu Siti hanya diam, dadanya bergemuruh seluruh persepsinya tentang Hendra runtuh dalam sekejap.
Ia lalu meminta tolong kepada dewan guru untuk menyelidiki masalah ini. Satu demi satu dewan guru bergantian mencari tahu dan berkunjung ke rumah atau warung Hendra. Mereka sering melihat rumah kecil itu gelap, terkadang pintunya setengah terbuka, dan pernah Hendra tertidur di lantai masih memakai seragam sekolah dua hari lalu. Di sekelilingrumahnya, banyak cucian bersih yang tergantung.
Dan untuk hari ini, bu Siti membuktikan semuanya dengan bertekad datang menghampiri Hendra.
“Mengapa tidak pernah kamu ceritakan semua masalah ini?” Tanya Bu Siti menatap Hendra dengan lama.
“Saya malu bu, lagian memang ini semua salah saya. Saya tidak pantas untuk sekolah dan mendapatkan pendidikan yang baik dengan keadaan seperti ini.” Jawab Hendra pelan merasa putus asa dengan semuanya.
Keesokan harinya di ruang guru, bu Siti berdiri di hadapan seluruh dewan guru beserta kepala sekolah.
“Kita salah, anak itu bukan pembangkang, dia hanya sedang bertahan hidup,” tutur bu Siti.
Diam dan hening tanpa ada suara, semua guru tertegun. Mereka mulai berdiskusi tentang permasalahan Hendra yang tidak seharusnya dikeluarkan dari sekolah.
Beberapa Minggu kemudian, kepala sekolah memanggil Hendra kembali ke sekolah. Semua dewan guru bersepakat untuk mengizinkan Hendra kembali bersekolah dengan jam yang disesuaikan dengan pekerjaannya. Bahkan beberapa guru menawarkan Hendra untuk tinggal bersama mereka dan menjadi keluarganya. Tetapi, Hendra menolak dengan alasan tidak ingin menambah beban mereka.
“Mulai minggu depan kamu hanya masuk pukul 09.00 sampai 12.00. Setiap hari, tanpa sanksi dan tanpa absen terlambat,” ujar kepala sekolah pada Hendra.
“Tapi… saya?” Hendra menatap semua orang dengan bingung.
Bu Siti berdiri memegang pundak Hendra yang berisi seribu beban itu, lalu menjelaskan, “Kami melihat setiap langakah perjuanganmu Ndra, setiap malam bekerja menyetrika pakaian, buka warung, dan kamu juga masih berusaha untuk sekolah, ini bukan sebuah keringanan, ini hadiah untuk kamu Hendra, yang sudah lebih dewasa dari kami semua,” jelas bu Siti dengan senyum bangganya.
“Kamu bukan siswa nakal, kamu inspirasi karena kamu bukti bahwa sekolah itu bukan soal absen jam tujuh pagi, dan buka juga tentang hanya bangun pagi… tapi soal hati yang tak pernah menyerah dan mengeluh,” sahut salah satu guru.
Mata lelah Hendra mulai berkaca-kaca, ia sangat terharu tapi malu rasanya untuk menumpahkan air mata itu. Ia sungguh bersyukur dan berterima kasih dalam hatinya.
Hendra mulai menata kembali hidupnya, seperti biasa ia akan masuk sekolah jam 9 pagi dan pulang pukul 12 siang. Ia langsung kembali ke warung kecilnya, memulai pekerjaan, mencatat pesanan, menyeduh kopi, menata rak, menyapu lantai, dan disaat tidak ada pelanggan ia akan menyetrika baju titipan tetangganya.
Seorang pelanggan tetap Hendra yaitu seorang pria paruh baya berpakaian sederhana datang seperti biasanya memesan kopi di warungnya.
Dalam diam pria itu merekam aktivitas Hendra, dari menyajikan makanan dengan senyum, merapikan tempat duduk, sampai menyalakan kompor sambil mengulang pelajaran di kertas kumal yang diletakkan di samping etalase.
Video berdurasi dua menit itu diunggah ke media sosial dengan judul “Anak SMA Ini Sekolah Jam 9–12 Karena Harus Buka Warung Sendiri Demi Bertahan Hidup”.
Dalam waktu 24 jam, video itu viral di semua Platform media sosial, banyak komentar netizen pun membanjiri kolom komentar.
“Anak ini layak dapet beasiswa!”
“Kenapa anak seperti ini justru harus berjuang sendirian?”
“Tag Kemdikbud! Tolong bantu anak ini dong!”
“Tag Willi Salim biar disamperin.”
Beberapa hari kemudian, sebuah mobil dinas berlogo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berhenti di depan warung kecil Hendra. Dua orang gagah dibalut jas rapih keluar dengan tegap diikuti oleh beberapa orang membawa alat canggih untuk meliput.
“Hendra?” Tanya salah satu dari mereka.
“Iya, saya Pak,” jawab Hendra sedikit takut.
“Saya Jopani kami dari Kementerian Pendidikan, kami datang langsung untuk memastikan cerita ini benar,” ujar Pria itu dengan menunjukan ponsel yang berisi video viral Hendra.
Hendra berbincang-bincang dengan pak Jopani hingga pak Jopani tak kuasa menahan air matanya. Hebat, itulah salah satu kata yang mewakili Hendra saat ini, disaat remaja lain sibuk dengan aktivitas menyenangkan, sementara Hendra berusaha untuk mencukupi kebutuhannya dengan pijakan kaki sendiri tanpa bantuan sedikit pun dari orang lain.
“Kami ingin menyampaikan bahwa kamu akan menerima beasiswa penuh sampai perguruan tinggi, serta bantuan hidup setiap bulan, jadi kamu tidak usah cape-cape nyetrika sama buka warung ya, kamu cuman harus fokus belajar, oke?” Ujar pak Jopani pada Hendra.
Hendra terdiam, tak percaya dengan semua ini, keberuntungan banyak datang menjemputnya.
Di hari Senin dengan cuaca terik, seluruh siswa dan guru berkumpul di lapangan melaksanakan upacara.
“Hari ini kita belajar bahwa keterlambatan bukan selalu tanda kemalasan, kadang itu tanda perjuangan, Hendra… hari ini bukan kamu yang menyesuaikan diri dengan sekolah, tapi sekolah yang belajar darimu, Hendra bukan tak bisa bangun pagi tapi ini hanya perihal perjuangan,” tutur Kepala Sekolah disusul oleh riuh tepuk tangan untuk Hendra.
Teman-teman yang dulu menggunjingnya, kini menunduk malu atas satu fakta yang telah terungkap. Hendra, dengan wajah bersih dan rapi, berdiri di podium. Kali ini bukan karena dihukum, melainkan karena dihormati sebagai sebuah kebanggaan dan teladan.
“Siapa sebenarnya orang yang pertama kali mengunggah video Hendra hingga viral?” Pertanyaan yang akhir-akhir ini muncul dalam benak Hendra. Ia tidak boleh melupakan jasa orang yang telah membuatnya diberi banyak keberuntungan.
Kini Hendra sudah tidak lagi menjaga warung itu, bukan karena lupa tapi kini ia disibukkan oleh buku-buku pelajaran dan ulangan yang menunggunya untuk ditaklukkan. Ia bukan lagi anak yang duduk di balik etalase sambil mencatat pesanan dan mencicil PR di sela waktu.
Siang hari terik, Hendra berjalan untuk mampir kembali ke warung kecil yang dulu menjadi tempat berteduhnya dari dunia yang keras. Meja kayu di sudut dekat etalase masih utuh, meski salah satu kakinya sudah sedikit goyah. Hendra duduk di sana menyapa penjaga baru dan sesekali matanya melirik-lirik, ia sedang menanti seseorang.
Kursi kayu disebelahnya berderit ringan menimbulkan suara sedikit rapuh. Seorang pria duduk sembari menepuk-nepuk jaketnya yang sudah cukup tua.
“Pak…,” sapa Hendra ragu.
“Inget saya?”
Pria itu menoleh, mendelik ragu menyelinap di matanya. Tapi kemudian ia tersenyum kecil. “Ya pasti inget, Hendra kan?”
Hendra mengangguk dengan senyumnya mengembang.
“Saya cuma mau bilang terima kasih, karena bapak, saya bisa sekolah dengan baik lagi,” tutur Hendra.
Pria itu menarik kursi dan mengajak Hendra duduk di sampingnya.
“Dulu saya juga sekolah tapi nggak sampai lulus, pada saat itu harus kerja persis kaya umur kamu sekarang, waktu lihat kamu di warung sambil masih pakai seragam sekolah, saya jadi ingat kisah saya dulu, makanya saya ambil HP terus rekam kamu, awalnya sih iseng enggak berharap bakal viral, wong saya bukan selebritis…,” ia terkekeh kecil.
“Saya unggah video itu karena saya ingin orang tahu… kalau masih ada anak muda yang berjuang sekuat itu untuk tetap belajar,” ucapnya tersenyum tipis, melirik ke arah Hendra.
Hening mengambang diantara mereka berdua, pelan-pelan Hendra menyunggingkan senyumannya. Bukan senyum kemenangan, tapi senyum penuh syukur yang lahir dari luka dan ketabahan.
Mereka duduk di sana, dua orang asing yang dipertemukan sebagai pembeli dan pelayan. Dunia di luar berjalan seperti biasa, tapi di dalam warung kecil itu, dua hati saling bertukar kekuatan tanpa banyak kata.
Dan hari itu, Hendra berjanji suatu hari nanti, ia akan jadi sosok yang juga mampu mengubah nasib orang lain, dengan kebaikan kecil yang tulus, seperti yang pernah ia terima. Ia akan bersungguh-sungguh menempuh pendidikannya dan membalas kebaikan semua orang yang telah datang padanya.
END
